By:
Nandia Secana Orchid
I only have the OC and story
Kriiiiinngggg.....!!!!
Alarmku
berbunyi. Aku terbangun dan mematikannya. Aku memosisikan diriku dari posisi
tidur menjadi duduk dan melihat kalender. Sekarang tanggal 8 April. “Tanggal 8 April, kau berangkat ke Jepang.”,
kata-kata itu bergema dipikiranku. Seketika aku bangun dan bersiap-siap untuk berangkat.
Ya, berangkat ke Jepang.
***
Aku telah sampai di bandara terdekat. Aku datang
bersama teman-teman dan keluargaku. Di sana aku bertemu dengan Bapak Gubernur.
“Um...
shitsurai desu ga(maaf), saya
terlambat!” aku meminta maaf pada Bapak Gubernur dengan menundukan kepala
hingga punggungku.
“Tidak
usah minta maaf. Lagi pula kau tidak terlambat. Pesawatnya akan take off 30 menit lagi.” jawab beliau
dengan senyum. Aku pun juga ikut tersenyum.
Setelah
tiga puluh menit, aku berpamitan pada semua teman dan keluargaku yang datang
untuk mengantarkanku dan juga bosku. Aku berjalan meninggalkan mereka, menuju
pesawat yang akan membawaku ke Jepang selama beberapa bulan bersama dengan
sahabatku Dara.
***
Kini aku dan Dara berada di dalam sebuah pesawat.
Kami menuju tempat duduk yang telah dipesan oleh Bapak Gubernur untuk kami.
Tempat duduk itu bersebelahan dengan jendela pesawat. Pada saat take off dan telah berada di langit,
kami dapat melihat pemandangan yang begitu indah. Aku mengambil banyak gambar
pemandangan itu, dan hasilnya sangat bagus.
Kami
akan berada di pesawat ini selama satu jam. Waktu yang sangat melelahkan karena
kami harus menekuk tubuh selama itu.
“Hei!”
Dara memecah keheningan.
“Apa?”
balasku.
Dara
mengajaku untuk bermain iPad nya. Aku hanya mengiyakan karena aku memang sangat
bosan. Kami bermain ‘Monopoly’, dan aku selalu kalah dari Dara. Aku memang
tidak pernah bermain Monopoly sebelumnya, makannya aku selalu kalah.
***
Pada
pukul delapan lebih empat puluh lima menit, pesawat kami telah mendarat. Kami
bergegas menyiapkan barang-barang kami dan turun dari pesawat. Pada saat turun
kami sangat bingung karena ada beberapa huruf kanji yang tidak kami ketahui.
Akhirnya kami hanya mengikuti arus.
Kami
sampai di tempat dimana orang yang akan menjemput kami datang. Aku melihat ada
seorang perempuan berkulit putih, memakai pakaian kerja, dan sedang memegang
sebuah papan bertuliskan nama kami. Akhirnya kami mendatangi orang itu.
“Selamat
datang di Jepang, Sandra-san, Dara-san!” sapa orang itu ramah.
Kami
pun berkenalan dan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Ternyata kami mudah
akrab. Perempuan itu mengantarkan kami menuju sebuah apartemen yang akan
menjadi tempat tinggal kami selama beberapa bulan mulai dari sekarang.
Perempuan itu pamit karena akan ada beberapa orang yang akan menunggu ia di
bandara. Sebelum pamit, ia memberikan kami jadwal mata pelajaran. Karena memang
kami ke Jepang untuk melanjutkan Sekolah Mengengah Atas.
Apartemen
ini sangat nyaman. Ada air hangat setiap kami menginginkannya. Internet pun
tersedia. Semuanya lengkap! Kami hanya perlu beradaptasi dengan cuaca dan semua
yang ada di Jepang. Karena masih lelah, kami pun beristirahat. Esok kami akan
memulai kegiatan sekolah.
***
Kriiiiiinnngg......!!!
Alarm
kami berbunyi. Seketika kami bangun. Kami bersiap-siap menuju Sekolah baru
kami. SMA Horikoshi. Aku pernah dengar bahwa ada beberapa artis Jepang
bersekolah di sana. Aku senangnya bukan main! Begitu juga Dara. Karena
mengetahui kami satu sekolah dengan artis.
“Ayo
cepat, Sandra!” perintah Dara.
“Hai’(iya)!” balasku sambil memakai
sepatu kets.
Karena
ini adalah kali pertama kami berada di Jepang, kami sangat bingung bagaimana
cara menuju SMA Horikoshi. Jika ingin bertanya, percuma saja. Kami tidak tahu
apa yang orang yang kami tanya bicarakan.
“Ano... kalian baru di Jepang ya?”
tiba-tiba sebuah suara dari seorang lelaki mengagetkan kami. Lelaki itu
jangkung memakai mantel, sebuah kaca mata hitam, dan masker. Seperti orang itu
sedang menghindar dari sesuatu.
“Um...
iya.” jawabku.
“Apa
tempat tujuan kalian? Mungkin saya bisa bantu.” tanya orang itu dengan nada
yang ramah.
“Tujuan
kami adalah SMA Horikoshi. Apakah anda tahu kemana arahnya?” balasku.
“Wah!
Tujuan kita sama. Kalian murid baru, ya? Ayo, berangkat bersama!” Lelaki itu
tersenyum. “Eeto... biar lebih akrab
ayo kita berkenalan! Aku Nakajima Yuto. Panggil saja Yuto. Semoga kau suka
bersekolah di SMA Horikoshi.” Yuto tersenyum ramah.
“Um...
Namaku Alexandra. Panggil saja Sandra!” aku memperkenalkan diri.
“Kalau
aku Adara. Biasa dipanggil Dara!” Dara juga memperkenalkan diri.
“Oh...
Yoroshiku onegaishimasu(senang
bertemu denganmu)!” Yuto melakukan ojigi (menundukan
kepala hingga punggung) dihadapan kami. Kami pun juga melakukannya. Akhirnya
kita menuju sekolah bertiga menggunakan bus umum. Tidak seperti di Indonesia.
Bus nya mempunyai pelayanan yang sangat baik.
***
Aku dan Dara berada di ambang pintu kelas X-7. Di
dalam ada Miyata-sensei(guru) sedang
berbicara di depan kelas. “Baik anak-anak. Hari ini kita kedatangan 2 murid
baru. Masuk!” perintah Miyata-sensei
padaku.
Kami
pun melangkahkan kaki memasuki kelas. Kini aku telah berada di hadapan
teman-teman baruku. Di sana terdapat seorang Nakajima Yuto sedang tersenyum
padaku. “Hajimemashite, Sandra desu!
Yoroshiku onegaishimasu!(Salam kenal, namaku Sandra! Senang bertemu
denganmu)” ucapku di depan kelas sambil ber-ojigi.
Dara juga memperkenalkan dirinya di depan kelas.
“Eeto... Sandra-san, Dara-san, silahkan cari tempat duduk yang kosong.
Sementara saya menyiapkan mata pelajaran hari ini.” ucap Miyata-sensei. Kami pun duduk di bangku paling
belakang, ujung pula.
***
Teeett.....
Bel
pulang berbunyi. Aku mengemasi barang-barangku dan pergi keluar kelas. Pada
saat aku berada di luar gedung bersama Dara, ada sebuah suara memanggil namaku.
“Sandra-san, Dara-san! Pulang bareng, yuk!” ternyata dia
adalah Yuto-san. Yuto sedang bersama
2 orang yang memang sedari pagi bersama Yuto hingga pulang sekolah. “Oiya!
Mereka adalah Chinen Yuri dan Yamada Ryosuke.” Yuto memperkenalkan dua pemuda
itu. “Yoroshiku!” ucap mereka
serempak. Akhirnya kami pulang bersama.
Sejak
saat itu kami berlima sah menjadi sahabat. Setiap hari kami selalu bersama.
Berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, mengerjakan PR bersama,
semuanya bersama. Bahkan kami sampai mempunyai tempat khusus untuk kami
berlima. Sebuah rumah pohon di dekat SMA Horikoshi.
Suatu
saat, ada kakak kelas bernama Arioka Daiki menghampiriku. “Hei! Kau anak
pindahan dari Indonesia itu ya? Yuto sudah benyak bercerita tentangmu. Ternyata
kau tenar juga di sini. Semoga berhasil sekolah di sini!”.
“Umh...
Arigatou, senpai(terimakasih, kak).”
jawabku sambil tersipu. Ini kali pertama aku diajak bicara oleh kakak kelas.
Jelas sekali wajahku memerah.
“Besok
libur kan? Nanti malam kau ada waktu tidak? Kalau ada, coba datang ke sini.”
Daiki-senpai(kakak kelas) memberikanku
sebuah alamat. Sepertinya alamat sebuah kafe atau restoran.
“Akan
ku usahakan!” balasku.
“Oke!
Aku tunggu!” Daiki-senpai
meninggalkanku bersama dengan Dara.
“Cie...
aku seperti patung di sini. Tidak ada yang menghiraukanku.” sahut Dara.
“Apa
sih? Sebaiknya kau juga ikut!” paksaku.
***
Malamnya aku dan Dara pergi ke tempat yang Daiki-senpai tunjukan. Saat kami sampai, kami datang menghampiri Daiki-senpai yang sedang bersama dengan
teman-temannya. Ada Inoo Kei-senpai, Yabu
Kouta-senpai, Takaki Yuya-senpai, dan Yaotome Hikaru-senpai. Tetapi ternyata disana juga
terdapat Chinen Yuri-kun, Yamada Ryosuke-kun, Nakajima Yuto-kun, Okamoto Keito-kun,
dan Morimoto Ryutaro-kun. Sepuluh
anak ter-famous di sekolah telah ada
di sini bersama denganku dan Dara. Bagaimana tidak famous? Mereka adalah sebuah boyband
yang sedang tenar-tenarnya di Jepang.
“Konbanwa(Selamat malam)!” sapa kami pada
mereka.
“Konbanwa.” balas mereka. Mereka menyuruh
kami duduk dan memesan minuman.
Di
sana kami berbincang-bincang dengan riang hingga malam sudah terlalu larut. Aku
dan Dara pun pamit untuk pulang karena sudah merasa mengantuk.
“Eh...
biar aku antar. Kau pasti susah untuk pulang pada jam-jam ini.” Hika-senpai menawarkan bantuan. Awalnya kami
ingin menolak, tetapi setelah dipikir-pikir benar juga kata Hika-senpai. Kami menerima bantuan Hika-senpai.
***
“Sudah sampai!” ucap Hika-senpai.
“Ah...
hontou ni arigato ne(terima kasih
banyak), Hika-senpai!” ucapku dan Dara. Kami turun dari mobil jaguar berwarna
abu-abu milik Hika-senpai. Mengucapkan
“Sayonara(selamat tinggal)” pada
Hika-senpai dan memasuki apartemen
kami. Lalu tidur dengan nyenyaknya.
***
Hari ini hari Sabtu. Sekolah libur. Mengingat aku dan Dara sudah meninggalkan
Indonesia selama beberapa bulan, akhirnya aku dan Dara mencoba untuk
menghubungi keluarga kami di Indonesia. Kami mengirim sebuah e-mail ke orang tua kami masing-masing,
dan ternyata mendapat balasan. Kami pun asik sendiri dengan orang tua
masing-masing lalu menyalakan camera chat.
Saat melihat ada banyak anggota keluarga berada dalam layar, kami senangnya
bukan main. Kami sangat rindu dengan keluarga kami hingga hampir merintikan air
mata.
“Bagaimana
di Jepang, nak? Kau mendapat teman? Ceritakan apa saja yang kau lakukan di
Jepang dong!” tanya mamaku beruntun. Aku hampir terdiam saking senangnya. Lalu
aku menceritakan semua yang aku lakukan di Jepang selama ini. Keluargaku
senang, aku senang, semua senang! Lalu mamaku bertanya, “Kapan kau akan
pulang?” dengan senyumnya yang menawan.
Dengan
muka agak sedih aku menjawab, “Sampai masa SMAku selesai, Ma.”. Waktu yang
sangat lama untuk bisa kembali bersama dengan keluargaku. Seketika keluargaku
juga ikut bersedih, karena harus menunggu lama. “Em... Ma? Ini kita sudah
terlalu lama ber-camera chat-nya.
Sebentar lagi putus nih koneksinya!”.
“Benarkah?
Mama hanya ingin ingin kamu mendapat prestasi yang baik di sana. Semoga kau
bisa, nak! Apa bahasa Jepangnya? Ganbatte?”
mama tertawa kecil.
“Hai’! Ganbarimasu(Aku akan lakukan yang terbaik)!” balasku sambil
tersenyum dan akhirnya webcam pun
mati. ‘Prestasi yang baik’ kata
mamaku. Oke! Itu adalah targetku di Jepang ini.
***
Hari demi hari ku lalui. Aku semakin belajar lebih
giat demi targetku itu. Tidak hanya belajar saja, aku juga membuat beberapa
kerajinan tangan khas Indonesia bersama Dara. Setelah kami mempromosikan
kerajinan yang kami buat kepada teman-teman kami. Pertama kami mempromosikannya
pada teman yang pertama kali kami punya di Jepang, Yuto. Yuto bilang bahwa dia
jarang melihat kerajinan seperti ini, “Wow... ini sangat bagus!” katanya. Maka
dia mau membeli dan mempromosikan kepada teman-temannya yang lain. Kami
senangnya bukan main.
Setelah
beberapa hari, ada banyak murid yang mendatangi kami hanya untuk melihat
kerajinan tangan kami. Ternyata mereka tidak hanya melihat barang-barang kami,
mereka juga membelinya.
Sekarang
uang tabungan kami sangat banyak. Kami memerlukan bank. Tetapi kami tidak tahu
cara mendaftarkan diri di bank. Ryutaro pun mengajak kami ke sebuah bank untuk
mendaftarkan diri. Ryutaro atau yang biasa kami panggil Ryuu menginstruksikan
kami bagaimana mengisi formulirnya. Memang ada beberapa huruf kanji yang tidak
kami ketahui. Tetapi kami tetap mengisinya, dan pendaftaran pun selesai.
“Terima
kasih, Ryuu.” kami berterima kasih pada Ryuu karena telah membantu kami.
“Yap!
Kapan saja aku bisa membantumu. Jika tidak ada sesi pemotretan, wawancara, dan
sejenisnya.” balas Ryuu.
Kami
hanya tertawa tertawa kecil. Selanjutnya kami pulang ke apartemen kecuali Ryuu
pulang ke rumahnya. Kami pulang berjalan kaki seperti biasa, melelahkan tetapi
mengasikan.
“Terima
kasih, Ryuu-kun!” ucap kami sekali
lagi.
“Sama-sama...
Aku pulang dulu ya!” balasnya lalu pergi meninggalkan kami.
***
Siangnya kami membuat kerajinan tangan. Kali ini
kami mengecatnya dengan warna-warna cerah sehingga lebih menarik perhatian.
Tentu saja kami mengecatnya dengan sangat hati-hati, jika tidak kami sudah rugi
beberapa Yen. Memang susah untuk mengecat sebuah kerajinan tangan, terkadang
kami hampir salah warna atau tercoret sehingga tidak beraturan.
Ting
tong...
Ada
seseorang yang membunyikan bel kami. Dara pun membukanya. Dara dan tamu itu
sempat bercakap-cakap selama beberapa menit sebelum masuk. Ternyata tamu itu
adalah Yuto, sahabat pertama kami di Jepang. Aku menyambutnya dengan senang
hati.
“Hei!
Sedang apa, nih?” tanya Yuto.
“Sedang
membuat kerajinan tangan.” jawabku.
“Oh...
boleh tidak aku belajar membuat kerajinan itu?”
“Boleh
saja!”
Akhirnya
aku dan Dara mengajari Yuto untuk membuat kerajinan tangan itu. Ternyata bagi
dia sangat susah untuk membuatnya. Tangannya terlalu besar untuk menganyam.
Kami hanya tertawa bersama selama membuat kerajinan tangan. Akhirnya selesai
dan kami pun menjemur karya kami di jendela yang terbuka.
***
Dua tahun kemudian...
“Hikaru-senpai! Tolong bacakan surat ini di
hadapan teman-teman senpai. Dua hari
mendatang aku dan Dara akan pulang, pergi ke Indonesia.” ucapku pada Hikaru-senpai sambil memberikan sebuah surat
berwarna biru laut kepadanya.
“Eh?
Pulang ke Indonesia? Cepat sekali. Apa tidak sekalian saja kau kuliah di
Jepang. Universitas Waseda bagus lho!”
“Tidak
usah, senpai. Orangtua kami sudah
menunggu kami selama tiga tahun lamanya. Jika masa SMA kami selesai, maka kami
harus pulang.”
“Tapi
bagaimana dengan fansmu di sini? Apa
kau tidak kasihan?” Hika-senpai
mencoba untuk menahan aku dan Dara pulang ke Indonesia.
Selama
aku dan Dara di sini, kami sempat menjadi model cover majalah di Jepang karena karya-karya kami. Semenjak itu kami
mempunyai beberapa fans.
“Kami
yakin mereka akan memahami kondisi kita.” balasku sambil tersenyum.
***
Malamnya aku dan Dara pergi ke bandara. Kami menaiki
pesawat dan meluncur menuju Indonesia. Keesokan harinya kami sampai ke
Indonesia. Akhirnya kami bertemu lagi dengan keluarga dan teman-teman kami yang
telah lama kami tinggalkan. Segera aku berlari memeluk mamaku. Dara juga
melalukan hal yang sama. Karena sudah sangat rindu, mataku mengalirkan air mata
yang tidak bisa dibendung lagi. Kami bercerita banyak dan yang paling banggakan
adalah bahwa aku dapat memenuhi keinginan mama untuk berprestasi. -end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar