Kamis, 20 Juni 2013

My Time in Japan

By: Nandia Secana Orchid
I only have the OC and story

Kriiiiinngggg.....!!!!

            Alarmku berbunyi. Aku terbangun dan mematikannya. Aku memosisikan diriku dari posisi tidur menjadi duduk dan melihat kalender. Sekarang tanggal 8 April. “Tanggal 8 April, kau berangkat ke Jepang.”, kata-kata itu bergema dipikiranku. Seketika aku bangun dan bersiap-siap untuk berangkat. Ya, berangkat ke Jepang.

***

Aku telah sampai di bandara terdekat. Aku datang bersama teman-teman dan keluargaku. Di sana aku bertemu dengan Bapak Gubernur.

            “Um... shitsurai desu ga(maaf), saya terlambat!” aku meminta maaf pada Bapak Gubernur dengan menundukan kepala hingga punggungku.

            “Tidak usah minta maaf. Lagi pula kau tidak terlambat. Pesawatnya akan take off 30 menit lagi.” jawab beliau dengan senyum. Aku pun juga ikut tersenyum.

            Setelah tiga puluh menit, aku berpamitan pada semua teman dan keluargaku yang datang untuk mengantarkanku dan juga bosku. Aku berjalan meninggalkan mereka, menuju pesawat yang akan membawaku ke Jepang selama beberapa bulan bersama dengan sahabatku Dara.

***

Kini aku dan Dara berada di dalam sebuah pesawat. Kami menuju tempat duduk yang telah dipesan oleh Bapak Gubernur untuk kami. Tempat duduk itu bersebelahan dengan jendela pesawat. Pada saat take off dan telah berada di langit, kami dapat melihat pemandangan yang begitu indah. Aku mengambil banyak gambar pemandangan itu, dan hasilnya sangat bagus.

            Kami akan berada di pesawat ini selama satu jam. Waktu yang sangat melelahkan karena kami harus menekuk tubuh selama itu.

            “Hei!” Dara memecah keheningan.

            “Apa?” balasku.

            Dara mengajaku untuk bermain iPad nya. Aku hanya mengiyakan karena aku memang sangat bosan. Kami bermain ‘Monopoly’, dan aku selalu kalah dari Dara. Aku memang tidak pernah bermain Monopoly sebelumnya, makannya aku selalu kalah.

***

            Pada pukul delapan lebih empat puluh lima menit, pesawat kami telah mendarat. Kami bergegas menyiapkan barang-barang kami dan turun dari pesawat. Pada saat turun kami sangat bingung karena ada beberapa huruf kanji yang tidak kami ketahui. Akhirnya kami hanya mengikuti arus.

            Kami sampai di tempat dimana orang yang akan menjemput kami datang. Aku melihat ada seorang perempuan berkulit putih, memakai pakaian kerja, dan sedang memegang sebuah papan bertuliskan nama kami. Akhirnya kami mendatangi orang itu.

            “Selamat datang di Jepang, Sandra-san, Dara-san!” sapa orang itu ramah.

            Kami pun berkenalan dan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Ternyata kami mudah akrab. Perempuan itu mengantarkan kami menuju sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggal kami selama beberapa bulan mulai dari sekarang. Perempuan itu pamit karena akan ada beberapa orang yang akan menunggu ia di bandara. Sebelum pamit, ia memberikan kami jadwal mata pelajaran. Karena memang kami ke Jepang untuk melanjutkan Sekolah Mengengah Atas.

            Apartemen ini sangat nyaman. Ada air hangat setiap kami menginginkannya. Internet pun tersedia. Semuanya lengkap! Kami hanya perlu beradaptasi dengan cuaca dan semua yang ada di Jepang. Karena masih lelah, kami pun beristirahat. Esok kami akan memulai kegiatan sekolah.

***

Kriiiiiinnngg......!!!

            Alarm kami berbunyi. Seketika kami bangun. Kami bersiap-siap menuju Sekolah baru kami. SMA Horikoshi. Aku pernah dengar bahwa ada beberapa artis Jepang bersekolah di sana. Aku senangnya bukan main! Begitu juga Dara. Karena mengetahui kami satu sekolah dengan artis.

            “Ayo cepat, Sandra!” perintah Dara.

            “Hai’(iya)!” balasku sambil memakai sepatu kets.

            Karena ini adalah kali pertama kami berada di Jepang, kami sangat bingung bagaimana cara menuju SMA Horikoshi. Jika ingin bertanya, percuma saja. Kami tidak tahu apa yang orang yang kami tanya bicarakan.

            “Ano... kalian baru di Jepang ya?” tiba-tiba sebuah suara dari seorang lelaki mengagetkan kami. Lelaki itu jangkung memakai mantel, sebuah kaca mata hitam, dan masker. Seperti orang itu sedang menghindar dari sesuatu.

            “Um... iya.” jawabku.

            “Apa tempat tujuan kalian? Mungkin saya bisa bantu.” tanya orang itu dengan nada yang ramah.

            “Tujuan kami adalah SMA Horikoshi. Apakah anda tahu kemana arahnya?” balasku.

            “Wah! Tujuan kita sama. Kalian murid baru, ya? Ayo, berangkat bersama!” Lelaki itu tersenyum. “Eeto... biar lebih akrab ayo kita berkenalan! Aku Nakajima Yuto. Panggil saja Yuto. Semoga kau suka bersekolah di SMA Horikoshi.” Yuto tersenyum ramah.

            “Um... Namaku Alexandra. Panggil saja Sandra!” aku memperkenalkan diri.

            “Kalau aku Adara. Biasa dipanggil Dara!” Dara juga memperkenalkan diri.

            “Oh... Yoroshiku onegaishimasu(senang bertemu denganmu)!” Yuto melakukan ojigi (menundukan kepala hingga punggung) dihadapan kami. Kami pun juga melakukannya. Akhirnya kita menuju sekolah bertiga menggunakan bus umum. Tidak seperti di Indonesia. Bus nya mempunyai pelayanan yang sangat baik.

***

Aku dan Dara berada di ambang pintu kelas X-7. Di dalam ada Miyata-sensei(guru) sedang berbicara di depan kelas. “Baik anak-anak. Hari ini kita kedatangan 2 murid baru. Masuk!” perintah Miyata-sensei padaku.

            Kami pun melangkahkan kaki memasuki kelas. Kini aku telah berada di hadapan teman-teman baruku. Di sana terdapat seorang Nakajima Yuto sedang tersenyum padaku. “Hajimemashite, Sandra desu! Yoroshiku onegaishimasu!(Salam kenal, namaku Sandra! Senang bertemu denganmu)” ucapku di depan kelas sambil ber-ojigi. Dara juga memperkenalkan dirinya di depan kelas.

            “Eeto... Sandra-san, Dara-san, silahkan cari tempat duduk yang kosong. Sementara saya menyiapkan mata pelajaran hari ini.” ucap Miyata-sensei. Kami pun duduk di bangku paling belakang, ujung pula.

***

Teeett.....

            Bel pulang berbunyi. Aku mengemasi barang-barangku dan pergi keluar kelas. Pada saat aku berada di luar gedung bersama Dara, ada sebuah suara memanggil namaku. “Sandra-san, Dara-san! Pulang bareng, yuk!” ternyata dia adalah Yuto-san. Yuto sedang bersama 2 orang yang memang sedari pagi bersama Yuto hingga pulang sekolah. “Oiya! Mereka adalah Chinen Yuri dan Yamada Ryosuke.” Yuto memperkenalkan dua pemuda itu. “Yoroshiku!” ucap mereka serempak. Akhirnya kami pulang bersama.

            Sejak saat itu kami berlima sah menjadi sahabat. Setiap hari kami selalu bersama. Berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, mengerjakan PR bersama, semuanya bersama. Bahkan kami sampai mempunyai tempat khusus untuk kami berlima. Sebuah rumah pohon di dekat SMA Horikoshi.

            Suatu saat, ada kakak kelas bernama Arioka Daiki menghampiriku. “Hei! Kau anak pindahan dari Indonesia itu ya? Yuto sudah benyak bercerita tentangmu. Ternyata kau tenar juga di sini. Semoga berhasil sekolah di sini!”.

            “Umh... Arigatou, senpai(terimakasih, kak).” jawabku sambil tersipu. Ini kali pertama aku diajak bicara oleh kakak kelas. Jelas sekali wajahku memerah.

            “Besok libur kan? Nanti malam kau ada waktu tidak? Kalau ada, coba datang ke sini.” Daiki-senpai(kakak kelas) memberikanku sebuah alamat. Sepertinya alamat sebuah kafe atau restoran.

            “Akan ku usahakan!” balasku.

            “Oke! Aku tunggu!” Daiki-senpai meninggalkanku bersama dengan Dara.

            “Cie... aku seperti patung di sini. Tidak ada yang menghiraukanku.” sahut Dara.

            “Apa sih? Sebaiknya kau juga ikut!” paksaku.

***

Malamnya aku dan Dara pergi ke tempat yang Daiki-senpai tunjukan. Saat kami sampai, kami datang menghampiri Daiki-senpai yang sedang bersama dengan teman-temannya. Ada Inoo Kei-senpai, Yabu Kouta-senpai, Takaki Yuya-senpai, dan Yaotome Hikaru-senpai. Tetapi ternyata disana juga terdapat Chinen Yuri-kun, Yamada Ryosuke-kun, Nakajima Yuto-kun, Okamoto Keito-kun, dan Morimoto Ryutaro-kun. Sepuluh anak ter-famous di sekolah telah ada di sini bersama denganku dan Dara. Bagaimana tidak famous? Mereka adalah sebuah boyband yang sedang tenar-tenarnya di Jepang.

            “Konbanwa(Selamat malam)!” sapa kami pada mereka.

            “Konbanwa.” balas mereka. Mereka menyuruh kami duduk dan memesan minuman.

            Di sana kami berbincang-bincang dengan riang hingga malam sudah terlalu larut. Aku dan Dara pun pamit untuk pulang karena sudah merasa mengantuk.

            “Eh... biar aku antar. Kau pasti susah untuk pulang pada jam-jam ini.” Hika-senpai menawarkan bantuan. Awalnya kami ingin menolak, tetapi setelah dipikir-pikir benar juga kata Hika-senpai. Kami menerima bantuan Hika-senpai.

***

“Sudah sampai!” ucap Hika-senpai.

            “Ah... hontou ni arigato ne(terima kasih banyak), Hika-senpai!” ucapku dan Dara. Kami turun dari mobil jaguar berwarna abu-abu milik Hika-senpai. Mengucapkan “Sayonara(selamat tinggal)” pada Hika-senpai dan memasuki apartemen kami. Lalu tidur dengan nyenyaknya.

***

Hari ini hari Sabtu. Sekolah libur. Mengingat aku dan Dara sudah meninggalkan Indonesia selama beberapa bulan, akhirnya aku dan Dara mencoba untuk menghubungi keluarga kami di Indonesia. Kami mengirim sebuah e-mail ke orang tua kami masing-masing, dan ternyata mendapat balasan. Kami pun asik sendiri dengan orang tua masing-masing lalu menyalakan camera chat. Saat melihat ada banyak anggota keluarga berada dalam layar, kami senangnya bukan main. Kami sangat rindu dengan keluarga kami hingga hampir merintikan air mata.

            “Bagaimana di Jepang, nak? Kau mendapat teman? Ceritakan apa saja yang kau lakukan di Jepang dong!” tanya mamaku beruntun. Aku hampir terdiam saking senangnya. Lalu aku menceritakan semua yang aku lakukan di Jepang selama ini. Keluargaku senang, aku senang, semua senang! Lalu mamaku bertanya, “Kapan kau akan pulang?” dengan senyumnya yang menawan.

            Dengan muka agak sedih aku menjawab, “Sampai masa SMAku selesai, Ma.”. Waktu yang sangat lama untuk bisa kembali bersama dengan keluargaku. Seketika keluargaku juga ikut bersedih, karena harus menunggu lama. “Em... Ma? Ini kita sudah terlalu lama ber-camera chat-nya. Sebentar lagi putus nih koneksinya!”.

            “Benarkah? Mama hanya ingin ingin kamu mendapat prestasi yang baik di sana. Semoga kau bisa, nak! Apa bahasa Jepangnya? Ganbatte?” mama tertawa kecil.

            “Hai’! Ganbarimasu(Aku akan lakukan yang terbaik)!” balasku sambil tersenyum dan akhirnya webcam pun mati. ‘Prestasi yang baik’ kata mamaku. Oke! Itu adalah targetku di Jepang ini.

***

Hari demi hari ku lalui. Aku semakin belajar lebih giat demi targetku itu. Tidak hanya belajar saja, aku juga membuat beberapa kerajinan tangan khas Indonesia bersama Dara. Setelah kami mempromosikan kerajinan yang kami buat kepada teman-teman kami. Pertama kami mempromosikannya pada teman yang pertama kali kami punya di Jepang, Yuto. Yuto bilang bahwa dia jarang melihat kerajinan seperti ini, “Wow... ini sangat bagus!” katanya. Maka dia mau membeli dan mempromosikan kepada teman-temannya yang lain. Kami senangnya bukan main.

            Setelah beberapa hari, ada banyak murid yang mendatangi kami hanya untuk melihat kerajinan tangan kami. Ternyata mereka tidak hanya melihat barang-barang kami, mereka juga membelinya.

            Sekarang uang tabungan kami sangat banyak. Kami memerlukan bank. Tetapi kami tidak tahu cara mendaftarkan diri di bank. Ryutaro pun mengajak kami ke sebuah bank untuk mendaftarkan diri. Ryutaro atau yang biasa kami panggil Ryuu menginstruksikan kami bagaimana mengisi formulirnya. Memang ada beberapa huruf kanji yang tidak kami ketahui. Tetapi kami tetap mengisinya, dan pendaftaran pun selesai.

            “Terima kasih, Ryuu.” kami berterima kasih pada Ryuu karena telah membantu kami.

         “Yap! Kapan saja aku bisa membantumu. Jika tidak ada sesi pemotretan, wawancara, dan sejenisnya.” balas Ryuu.

            Kami hanya tertawa tertawa kecil. Selanjutnya kami pulang ke apartemen kecuali Ryuu pulang ke rumahnya. Kami pulang berjalan kaki seperti biasa, melelahkan tetapi mengasikan.

            “Terima kasih, Ryuu-kun!” ucap kami sekali lagi.

            “Sama-sama... Aku pulang dulu ya!” balasnya lalu pergi meninggalkan kami.

***

Siangnya kami membuat kerajinan tangan. Kali ini kami mengecatnya dengan warna-warna cerah sehingga lebih menarik perhatian. Tentu saja kami mengecatnya dengan sangat hati-hati, jika tidak kami sudah rugi beberapa Yen. Memang susah untuk mengecat sebuah kerajinan tangan, terkadang kami hampir salah warna atau tercoret sehingga tidak beraturan.

            Ting tong...

            Ada seseorang yang membunyikan bel kami. Dara pun membukanya. Dara dan tamu itu sempat bercakap-cakap selama beberapa menit sebelum masuk. Ternyata tamu itu adalah Yuto, sahabat pertama kami di Jepang. Aku menyambutnya dengan senang hati.

            “Hei! Sedang apa, nih?” tanya Yuto.

            “Sedang membuat kerajinan tangan.” jawabku.

            “Oh... boleh tidak aku belajar membuat kerajinan itu?”

            “Boleh saja!”

            Akhirnya aku dan Dara mengajari Yuto untuk membuat kerajinan tangan itu. Ternyata bagi dia sangat susah untuk membuatnya. Tangannya terlalu besar untuk menganyam. Kami hanya tertawa bersama selama membuat kerajinan tangan. Akhirnya selesai dan kami pun menjemur karya kami di jendela yang terbuka.

***

Dua tahun kemudian...

            “Hikaru-senpai! Tolong bacakan surat ini di hadapan teman-teman senpai. Dua hari mendatang aku dan Dara akan pulang, pergi ke Indonesia.” ucapku pada Hikaru-senpai sambil memberikan sebuah surat berwarna biru laut kepadanya.

            “Eh? Pulang ke Indonesia? Cepat sekali. Apa tidak sekalian saja kau kuliah di Jepang. Universitas Waseda bagus lho!”

            “Tidak usah, senpai. Orangtua kami sudah menunggu kami selama tiga tahun lamanya. Jika masa SMA kami selesai, maka kami harus pulang.”

            “Tapi bagaimana dengan fansmu di sini? Apa kau tidak kasihan?” Hika-senpai mencoba untuk menahan aku dan Dara pulang ke Indonesia.

            Selama aku dan Dara di sini, kami sempat menjadi model cover majalah di Jepang karena karya-karya kami. Semenjak itu kami mempunyai beberapa fans.

            “Kami yakin mereka akan memahami kondisi kita.” balasku sambil tersenyum.

***


Malamnya aku dan Dara pergi ke bandara. Kami menaiki pesawat dan meluncur menuju Indonesia. Keesokan harinya kami sampai ke Indonesia. Akhirnya kami bertemu lagi dengan keluarga dan teman-teman kami yang telah lama kami tinggalkan. Segera aku berlari memeluk mamaku. Dara juga melalukan hal yang sama. Karena sudah sangat rindu, mataku mengalirkan air mata yang tidak bisa dibendung lagi. Kami bercerita banyak dan yang paling banggakan adalah bahwa aku dapat memenuhi keinginan mama untuk berprestasi. -end

Rabu, 19 Juni 2013

FLOWER

Cerita ini awalnya terinspirasi dari lagu Flower by Maeda Atsuko. Tapi entah tiba-tiba jadi begini :P Just enjoy it, and please give comment! ^^/


FLOWER

Di sudut hatiku terdapat bunga
Setangkai bunga kecil telah mekar
Suatu hari aku berharap
Bunga itu akan mekar di dalam cahaya dengan perlahan

***

Ku duduk diam di bangkuku. Mendengarkan musik favoritku sambil menggambar sesuatu yang menurut orang lain pasti aneh. Tetapi bagiku tidak. Ku pandangi hasil dari coret-coretan tidak jelasku ini. Sebuah surat bertuliskan “Maudy Reina Anindya” terpampang jelas disana. Sebuah surat undangan untuk memasuki universitas terbaik tahun ini, yang sudah aku dan ibuku bicarakan sejak aku lahir. Itu adalah mimpiku untuk mendapatkan undangan itu. Hanya 30 murid terbaik dari seluruh SMA di pulau Jawa ini bisa mendapatkan surat undangan itu, dan semua murid menginginkannya.
            “Hey, Reina! Apa kau sudah selesai?”
            Ku dengar salah satu suara yang tidak lagi asing ditelingaku. Hana. Seorang gadis yang selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Dia adalah sahabat terbaikku sejak kami masih mengompol dicelana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja aku tidak pernah bertemu dengannya.
            Dia menguncir rambut panjang-hitam-lebat-mengkilapnya dengan rapi. Seragamnya yang sedikit berantakan membuatnya tampak seperti “berandalan elit” SMA Bunga Cahaya I. Meskipun terlihat sedikit tomboy, dia mempunyai banyak teman karena sifatnya yang mudah berbaur dengan lainnya.
            “Hm?” aku tersadar dari lamunanku, “Aku sudah selesai. Yuk, kita pulang!”. Aku membereskan barang-barangku dan menggandeng tangannya keluar kelas untuk pulang.
            Saat kami sampai di lobby, ia melepas gandenganku dan berbicara, “Hei, tenang!”. Sepertinya aku terlalu keras menari tangannya.
            “Maaf, apakah tanganmu sakit?” Aku sedikit meringis sambil memerhatikan tangannya yang memerah.
            “Itu bukan sakit! Tapi itu sangat sakit!” ia menekankan kata “sakit”, sehingga aku merasa bersalah. “Kau tidak pernah bisa tenang ya?” ia memegangi tangannya.
            “Maaf! Ini memang tanganku. Mau bagaimana lagi?” Aku sedikit cemberut. Ia sudah lama terkena serangan tangan bajaku ini, tetapi ia masih saja mengeluh, dan kenapa aku tidak pernah bisa mengontrol kekuatan tanganku!?

***

Ini adalah jalan yang panjang
Sampai ia tertiup angin dan terkena hujan
Dalam semua kejujuran tetaplah percaya pada hal yang bisa kau lakukan

***

Sejak aku menggambar surat undangan itu, aku jadi bertekad untuk mendapatkan salah satu dari 30 suratnya. Aku berusaha untuk belajar dengan giat dan berusaha menjadi nomor 1. Aku lakukan apa saja yang bisa membuatku jadi lebih baik.
            Aku menyewa guru privat untuk pelajaran ter-“killer” yang pernah ada, Kimia. Entah, otakku tidak bisa menyerap apa yang diomelkan oleh guru privat ini. Aku malah mendengarnya sebagai dongeng yang membosankan dan pada akhirnya tertidur. Aku yakin guru itu ingin sekali mematahkan tulang leher ku.
            Selain itu aku juga berusaha untuk mengulang semua pelajaran yang telah diajarkan oleh guru-guru. Ku buat rangkumannya tiap bab dan tak ada yang terlewat. Alhasil, nilaiku sedikit meningkat. Dari 80 menjadi 85 dan akhirnya 90. Semoga saja aku bisa mendapatkan nilai sempurna.

***

Setangkai bunga kecil yang kuharapkan telah layu
Layu bersama dengan cahaya yang mulai berubah menjadi bayangan
Meninggalkan kepedihan dan rasa sakit yang menusuk jantungku
Akankah ini akhir dari segalanya?

***

“Hei, Rein! Kau punya waktu?” tanya Hana kepadaku. Sorot matanya tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang aneh.
            “Um... Maaf, tapi aku harus mengulang bab ini. Aku sama sekali belum mengerti isi dari bab ini. Mungkin lain waktu.” jawabku.
            Seketika sorot matanya berubah. Menjadi suram dan terlihat tak berwarna seperti biasanya.
            Ia membalikkan badan dan membuka pintu kamarku, hendak keluar kamar. Disaat ia hampir melangkahkan kakinya, ia berbisik, “Ternyata kau memang berubah. Kau bukanlah Reina yang ku kenal.” lalu pergi dengan meninggalkan rasa sakit didadaku.
            Aku menolehkan pandanganku ke arahnya. Sosoknya mulai menghilang bersama dengan langkah kakinya yang terdengar semakin jauh. Aku ingin menangis karena dia menginggalkanku.
            Apakah aku terlalu berubah? Apakah aku bukanlah Reina yang dulu lagi? Apakah aku telah berbuat salah? Apa yang terjadi denganku?

***

Sumur kegelapan di dalam hatiku terlalu dalam
Aku tak bisa menahan rasa sakitnya
Aku tak bisa lagi membendung air mata kesedihan
Bunga kecilku, tolong kembalilah!

***

Ku lihat Anna di sana. Terlihat riang seperti biasanya sampai di melihat ke arahku. Ku tatap matanya dalam. Di matanya ku lihat 2 lubang sumur gelap yang tak terhingga dalamnya. Aku memaksakan senyum, tetapi ia tidak membalas senyum ku. Ia malah membuang muka dan pergi meninggalkan ku dengan membawa teman-teman yang lain. Kini aku sendiri.
            Aku mengikutinya ke kantin. Ia mengobrol bersama teman-temannya di sana. Entah, saat ia tertawa tidak bersamaku, hatiku rasanya sakit. Aku merindukan tawa itu. Aku hampir menangis saat melihat senyumannya ditujukan pada yang lain. Aku hampir tidak pernah melihat senyuman itu lagi.
            Aku seka air mata yang hampir jatuh. Aku kembali melihatnya, berusaha menyapanya. Tetapi ia melihatku terlebih dahulu, dan seketika senyumnya menghilang. Aku tersenyum selebar mungkin untuknya. Tapi hasilnya nihil, ia mengajak yang lain untuk pindah tempat.
            Rasanya sebuah panah besar menusuk jantungku dari belakang.
            Bagaimana perasaanmu ketika sahabat terbaikmu membencimu? Sangat membencimu?
            Aku mengikutinya sekali lagi. Ini aneh. Dia berbicara sesuatu pada rombongannya lalu pergi meninggalkan rombongannya. Pergi menuju teras sekolah tempat dimana “dulu” kami sering menghabiskan waktu bersama.
            Aku berada di belakangnya. Tepat di belakangnya. Saat aku hampir menyapanya, ia sudah membuka mulut.
            “Di sini tempat kita dulu sering bersama-sama. Makan bersama, mengerjakan PR bersama, bercanda bersama. Tetapi itu dulu.” Ia memegang pohon yang berada di sisi kiri kami. “Itu dulu saat Reina masih lebih suka menggambar daripada membaca buku-buku rumus Fisika, dulu saat Reina masih suka menggandeng tanganku dengan kuat hingga memerah, dulu saat ... saat ...” ia menundukan kepala. Pada saat itu juga aku tahu bahwa ia menangis. Oh, tuhan! Apakah aku terlalu banyak berubah?
            Aku merangkulnya dari belakang. “Apakah aku terlalu banyak berubah?” tanyaku.
            Ia masih menangis. Tak bisa menjawab.
            “Jika aku terlalu banyak berubah, mau kah kau memaafkanku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau maafin aku? Aku akan melakukan apapun.” aku mencoba menenangkannya.
            “Dengan jadilah Reina yang dulu. Itu akan sangat membantu.”
            “Baik. Aku akan berusaha!”
            Kami berpelukan disana. Mengenang kembali masa-masa disaat kami sangat dekat.

***

Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul
Menyinari semua yang gelap menjadi terang
Kegelapan pun sirna

Dan hanya rasa bahagia yang tak terbayangkan yang dapat ku ungkapkan dalam kata-kata

END