FLOWER
Di sudut hatiku terdapat bunga
Setangkai bunga kecil telah mekar
Suatu hari aku berharap
Bunga itu akan mekar di dalam cahaya dengan perlahan
***
Ku duduk diam di bangkuku.
Mendengarkan musik favoritku sambil menggambar sesuatu yang menurut orang lain
pasti aneh. Tetapi bagiku tidak. Ku pandangi hasil dari coret-coretan tidak
jelasku ini. Sebuah surat bertuliskan “Maudy Reina Anindya” terpampang jelas
disana. Sebuah surat undangan untuk memasuki universitas terbaik tahun ini,
yang sudah aku dan ibuku bicarakan sejak aku lahir. Itu adalah mimpiku untuk
mendapatkan undangan itu. Hanya 30 murid terbaik dari seluruh SMA di pulau Jawa
ini bisa mendapatkan surat undangan itu, dan semua murid menginginkannya.
“Hey,
Reina! Apa kau sudah selesai?”
Ku
dengar salah satu suara yang tidak lagi asing ditelingaku. Hana. Seorang gadis
yang selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Dia adalah sahabat terbaikku
sejak kami masih mengompol dicelana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi
padaku jika saja aku tidak pernah bertemu dengannya.
Dia
menguncir rambut panjang-hitam-lebat-mengkilapnya dengan rapi. Seragamnya yang
sedikit berantakan membuatnya tampak seperti “berandalan elit” SMA Bunga Cahaya
I. Meskipun terlihat sedikit tomboy, dia mempunyai banyak teman karena sifatnya
yang mudah berbaur dengan lainnya.
“Hm?”
aku tersadar dari lamunanku, “Aku sudah selesai. Yuk, kita pulang!”. Aku
membereskan barang-barangku dan menggandeng tangannya keluar kelas untuk
pulang.
Saat
kami sampai di lobby, ia melepas gandenganku dan berbicara, “Hei, tenang!”.
Sepertinya aku terlalu keras menari tangannya.
“Maaf,
apakah tanganmu sakit?” Aku sedikit meringis sambil memerhatikan tangannya yang
memerah.
“Itu
bukan sakit! Tapi itu sangat sakit!” ia menekankan kata “sakit”, sehingga aku
merasa bersalah. “Kau tidak pernah bisa tenang ya?” ia memegangi tangannya.
“Maaf!
Ini memang tanganku. Mau bagaimana lagi?” Aku sedikit cemberut. Ia sudah lama
terkena serangan tangan bajaku ini, tetapi ia masih saja mengeluh, dan kenapa
aku tidak pernah bisa mengontrol kekuatan tanganku!?
***
Ini adalah jalan yang panjang
Sampai ia tertiup angin dan terkena hujan
Dalam semua kejujuran tetaplah percaya pada hal yang bisa kau
lakukan
***
Sejak aku menggambar surat undangan
itu, aku jadi bertekad untuk mendapatkan salah satu dari 30 suratnya. Aku
berusaha untuk belajar dengan giat dan berusaha menjadi nomor 1. Aku lakukan
apa saja yang bisa membuatku jadi lebih baik.
Aku
menyewa guru privat untuk pelajaran ter-“killer” yang pernah ada, Kimia. Entah,
otakku tidak bisa menyerap apa yang diomelkan oleh guru privat ini. Aku malah
mendengarnya sebagai dongeng yang membosankan dan pada akhirnya tertidur. Aku
yakin guru itu ingin sekali mematahkan tulang leher ku.
Selain
itu aku juga berusaha untuk mengulang semua pelajaran yang telah diajarkan oleh
guru-guru. Ku buat rangkumannya tiap bab dan tak ada yang terlewat. Alhasil,
nilaiku sedikit meningkat. Dari 80 menjadi 85 dan akhirnya 90. Semoga saja aku
bisa mendapatkan nilai sempurna.
***
Setangkai bunga kecil yang kuharapkan telah layu
Layu bersama dengan cahaya yang mulai berubah menjadi bayangan
Meninggalkan kepedihan dan rasa sakit yang menusuk jantungku
Akankah ini akhir dari segalanya?
***
“Hei, Rein! Kau punya waktu?” tanya
Hana kepadaku. Sorot matanya tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang aneh.
“Um...
Maaf, tapi aku harus mengulang bab ini. Aku sama sekali belum mengerti isi dari
bab ini. Mungkin lain waktu.” jawabku.
Seketika
sorot matanya berubah. Menjadi suram dan terlihat tak berwarna seperti
biasanya.
Ia
membalikkan badan dan membuka pintu kamarku, hendak keluar kamar. Disaat ia hampir
melangkahkan kakinya, ia berbisik, “Ternyata kau memang berubah. Kau bukanlah
Reina yang ku kenal.” lalu pergi dengan meninggalkan rasa sakit didadaku.
Aku
menolehkan pandanganku ke arahnya. Sosoknya mulai menghilang bersama dengan
langkah kakinya yang terdengar semakin jauh. Aku ingin menangis karena dia
menginggalkanku.
Apakah
aku terlalu berubah? Apakah aku bukanlah Reina yang dulu lagi? Apakah aku telah
berbuat salah? Apa yang terjadi denganku?
***
Sumur kegelapan di dalam hatiku terlalu dalam
Aku tak bisa menahan rasa sakitnya
Aku tak bisa lagi membendung air mata kesedihan
Bunga kecilku, tolong kembalilah!
***
Ku lihat Anna di sana. Terlihat
riang seperti biasanya sampai di melihat ke arahku. Ku tatap matanya dalam. Di matanya
ku lihat 2 lubang sumur gelap yang tak terhingga dalamnya. Aku memaksakan
senyum, tetapi ia tidak membalas senyum ku. Ia malah membuang muka dan pergi
meninggalkan ku dengan membawa teman-teman yang lain. Kini aku sendiri.
Aku
mengikutinya ke kantin. Ia mengobrol bersama teman-temannya di sana. Entah,
saat ia tertawa tidak bersamaku, hatiku rasanya sakit. Aku merindukan tawa itu.
Aku hampir menangis saat melihat senyumannya ditujukan pada yang lain. Aku
hampir tidak pernah melihat senyuman itu lagi.
Aku
seka air mata yang hampir jatuh. Aku kembali melihatnya, berusaha menyapanya.
Tetapi ia melihatku terlebih dahulu, dan seketika senyumnya menghilang. Aku
tersenyum selebar mungkin untuknya. Tapi hasilnya nihil, ia mengajak yang lain
untuk pindah tempat.
Rasanya
sebuah panah besar menusuk jantungku dari belakang.
Bagaimana
perasaanmu ketika sahabat terbaikmu membencimu? Sangat membencimu?
Aku
mengikutinya sekali lagi. Ini aneh. Dia berbicara sesuatu pada rombongannya
lalu pergi meninggalkan rombongannya. Pergi menuju teras sekolah tempat dimana “dulu”
kami sering menghabiskan waktu bersama.
Aku
berada di belakangnya. Tepat di belakangnya. Saat aku hampir menyapanya, ia
sudah membuka mulut.
“Di
sini tempat kita dulu sering bersama-sama. Makan bersama, mengerjakan PR
bersama, bercanda bersama. Tetapi itu dulu.” Ia memegang pohon yang berada di
sisi kiri kami. “Itu dulu saat Reina masih lebih suka menggambar daripada
membaca buku-buku rumus Fisika, dulu saat Reina masih suka menggandeng tanganku
dengan kuat hingga memerah, dulu saat ... saat ...” ia menundukan kepala. Pada
saat itu juga aku tahu bahwa ia menangis. Oh, tuhan! Apakah aku terlalu banyak
berubah?
Aku
merangkulnya dari belakang. “Apakah aku terlalu banyak berubah?” tanyaku.
Ia
masih menangis. Tak bisa menjawab.
“Jika
aku terlalu banyak berubah, mau kah kau memaafkanku? Apa yang harus aku lakukan
agar kamu mau maafin aku? Aku akan melakukan apapun.” aku mencoba
menenangkannya.
“Dengan
jadilah Reina yang dulu. Itu akan sangat membantu.”
“Baik.
Aku akan berusaha!”
Kami
berpelukan disana. Mengenang kembali masa-masa disaat kami sangat dekat.
***
Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul
Menyinari semua yang gelap menjadi terang
Kegelapan pun sirna
Dan hanya rasa bahagia yang tak terbayangkan yang dapat ku
ungkapkan dalam
kata-kata
END