Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2013

FLOWER

Cerita ini awalnya terinspirasi dari lagu Flower by Maeda Atsuko. Tapi entah tiba-tiba jadi begini :P Just enjoy it, and please give comment! ^^/


FLOWER

Di sudut hatiku terdapat bunga
Setangkai bunga kecil telah mekar
Suatu hari aku berharap
Bunga itu akan mekar di dalam cahaya dengan perlahan

***

Ku duduk diam di bangkuku. Mendengarkan musik favoritku sambil menggambar sesuatu yang menurut orang lain pasti aneh. Tetapi bagiku tidak. Ku pandangi hasil dari coret-coretan tidak jelasku ini. Sebuah surat bertuliskan “Maudy Reina Anindya” terpampang jelas disana. Sebuah surat undangan untuk memasuki universitas terbaik tahun ini, yang sudah aku dan ibuku bicarakan sejak aku lahir. Itu adalah mimpiku untuk mendapatkan undangan itu. Hanya 30 murid terbaik dari seluruh SMA di pulau Jawa ini bisa mendapatkan surat undangan itu, dan semua murid menginginkannya.
            “Hey, Reina! Apa kau sudah selesai?”
            Ku dengar salah satu suara yang tidak lagi asing ditelingaku. Hana. Seorang gadis yang selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Dia adalah sahabat terbaikku sejak kami masih mengompol dicelana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja aku tidak pernah bertemu dengannya.
            Dia menguncir rambut panjang-hitam-lebat-mengkilapnya dengan rapi. Seragamnya yang sedikit berantakan membuatnya tampak seperti “berandalan elit” SMA Bunga Cahaya I. Meskipun terlihat sedikit tomboy, dia mempunyai banyak teman karena sifatnya yang mudah berbaur dengan lainnya.
            “Hm?” aku tersadar dari lamunanku, “Aku sudah selesai. Yuk, kita pulang!”. Aku membereskan barang-barangku dan menggandeng tangannya keluar kelas untuk pulang.
            Saat kami sampai di lobby, ia melepas gandenganku dan berbicara, “Hei, tenang!”. Sepertinya aku terlalu keras menari tangannya.
            “Maaf, apakah tanganmu sakit?” Aku sedikit meringis sambil memerhatikan tangannya yang memerah.
            “Itu bukan sakit! Tapi itu sangat sakit!” ia menekankan kata “sakit”, sehingga aku merasa bersalah. “Kau tidak pernah bisa tenang ya?” ia memegangi tangannya.
            “Maaf! Ini memang tanganku. Mau bagaimana lagi?” Aku sedikit cemberut. Ia sudah lama terkena serangan tangan bajaku ini, tetapi ia masih saja mengeluh, dan kenapa aku tidak pernah bisa mengontrol kekuatan tanganku!?

***

Ini adalah jalan yang panjang
Sampai ia tertiup angin dan terkena hujan
Dalam semua kejujuran tetaplah percaya pada hal yang bisa kau lakukan

***

Sejak aku menggambar surat undangan itu, aku jadi bertekad untuk mendapatkan salah satu dari 30 suratnya. Aku berusaha untuk belajar dengan giat dan berusaha menjadi nomor 1. Aku lakukan apa saja yang bisa membuatku jadi lebih baik.
            Aku menyewa guru privat untuk pelajaran ter-“killer” yang pernah ada, Kimia. Entah, otakku tidak bisa menyerap apa yang diomelkan oleh guru privat ini. Aku malah mendengarnya sebagai dongeng yang membosankan dan pada akhirnya tertidur. Aku yakin guru itu ingin sekali mematahkan tulang leher ku.
            Selain itu aku juga berusaha untuk mengulang semua pelajaran yang telah diajarkan oleh guru-guru. Ku buat rangkumannya tiap bab dan tak ada yang terlewat. Alhasil, nilaiku sedikit meningkat. Dari 80 menjadi 85 dan akhirnya 90. Semoga saja aku bisa mendapatkan nilai sempurna.

***

Setangkai bunga kecil yang kuharapkan telah layu
Layu bersama dengan cahaya yang mulai berubah menjadi bayangan
Meninggalkan kepedihan dan rasa sakit yang menusuk jantungku
Akankah ini akhir dari segalanya?

***

“Hei, Rein! Kau punya waktu?” tanya Hana kepadaku. Sorot matanya tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang aneh.
            “Um... Maaf, tapi aku harus mengulang bab ini. Aku sama sekali belum mengerti isi dari bab ini. Mungkin lain waktu.” jawabku.
            Seketika sorot matanya berubah. Menjadi suram dan terlihat tak berwarna seperti biasanya.
            Ia membalikkan badan dan membuka pintu kamarku, hendak keluar kamar. Disaat ia hampir melangkahkan kakinya, ia berbisik, “Ternyata kau memang berubah. Kau bukanlah Reina yang ku kenal.” lalu pergi dengan meninggalkan rasa sakit didadaku.
            Aku menolehkan pandanganku ke arahnya. Sosoknya mulai menghilang bersama dengan langkah kakinya yang terdengar semakin jauh. Aku ingin menangis karena dia menginggalkanku.
            Apakah aku terlalu berubah? Apakah aku bukanlah Reina yang dulu lagi? Apakah aku telah berbuat salah? Apa yang terjadi denganku?

***

Sumur kegelapan di dalam hatiku terlalu dalam
Aku tak bisa menahan rasa sakitnya
Aku tak bisa lagi membendung air mata kesedihan
Bunga kecilku, tolong kembalilah!

***

Ku lihat Anna di sana. Terlihat riang seperti biasanya sampai di melihat ke arahku. Ku tatap matanya dalam. Di matanya ku lihat 2 lubang sumur gelap yang tak terhingga dalamnya. Aku memaksakan senyum, tetapi ia tidak membalas senyum ku. Ia malah membuang muka dan pergi meninggalkan ku dengan membawa teman-teman yang lain. Kini aku sendiri.
            Aku mengikutinya ke kantin. Ia mengobrol bersama teman-temannya di sana. Entah, saat ia tertawa tidak bersamaku, hatiku rasanya sakit. Aku merindukan tawa itu. Aku hampir menangis saat melihat senyumannya ditujukan pada yang lain. Aku hampir tidak pernah melihat senyuman itu lagi.
            Aku seka air mata yang hampir jatuh. Aku kembali melihatnya, berusaha menyapanya. Tetapi ia melihatku terlebih dahulu, dan seketika senyumnya menghilang. Aku tersenyum selebar mungkin untuknya. Tapi hasilnya nihil, ia mengajak yang lain untuk pindah tempat.
            Rasanya sebuah panah besar menusuk jantungku dari belakang.
            Bagaimana perasaanmu ketika sahabat terbaikmu membencimu? Sangat membencimu?
            Aku mengikutinya sekali lagi. Ini aneh. Dia berbicara sesuatu pada rombongannya lalu pergi meninggalkan rombongannya. Pergi menuju teras sekolah tempat dimana “dulu” kami sering menghabiskan waktu bersama.
            Aku berada di belakangnya. Tepat di belakangnya. Saat aku hampir menyapanya, ia sudah membuka mulut.
            “Di sini tempat kita dulu sering bersama-sama. Makan bersama, mengerjakan PR bersama, bercanda bersama. Tetapi itu dulu.” Ia memegang pohon yang berada di sisi kiri kami. “Itu dulu saat Reina masih lebih suka menggambar daripada membaca buku-buku rumus Fisika, dulu saat Reina masih suka menggandeng tanganku dengan kuat hingga memerah, dulu saat ... saat ...” ia menundukan kepala. Pada saat itu juga aku tahu bahwa ia menangis. Oh, tuhan! Apakah aku terlalu banyak berubah?
            Aku merangkulnya dari belakang. “Apakah aku terlalu banyak berubah?” tanyaku.
            Ia masih menangis. Tak bisa menjawab.
            “Jika aku terlalu banyak berubah, mau kah kau memaafkanku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau maafin aku? Aku akan melakukan apapun.” aku mencoba menenangkannya.
            “Dengan jadilah Reina yang dulu. Itu akan sangat membantu.”
            “Baik. Aku akan berusaha!”
            Kami berpelukan disana. Mengenang kembali masa-masa disaat kami sangat dekat.

***

Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul
Menyinari semua yang gelap menjadi terang
Kegelapan pun sirna

Dan hanya rasa bahagia yang tak terbayangkan yang dapat ku ungkapkan dalam kata-kata

END